Skip to main content

Untuk Semua Manusia Penghuni Pulau Biru


Suatu jalan panjang yang berliku
Gelap yang semakin menebal
Ialah raksasa yang angkuh
Menyeramkan, terus meneror dan menghancurkan ke-manusia-an

Muncul dari dasar bumi menelan cahaya-nya hidup
“Eudenonisme” menjadi merana tak terbayang
Setelah penghancuran atas monarki absolut
Menjadikan pengusa dan dengan republik agar dihormati
Dengan seruan suci, dengan parade bersenjata,
Dengan rumah tempat tumpukan dollar
Membuatnya semakin Berjaya

Tapi tidak untuk mereka para pekerja-upahan
Hidup mereka bukan sepenuhnya miliknya,
Mereka mencipta namun bukan untuknya,
Mereka di jauhkan dari orang-orang yang terkasih
Seiring menyesakkan nafas
Bersama luka yang semakin menganga

Mereka mulai berkumpul
Meraka mulai membusungkan dada
Ribuan semut merah mulai menjarah
Mereka sadar akan hukum sejarah

Lantas mereka berseru:
“Kamilah pengganti dari kekuasaan leviathan yang tiran”
“Kami bawa buah tangan anti private property”
“Kamilah masa depan yang cerah”

Para pekerja-upahan berkumpul di jalan, di gedung-gedung
Peperangan pun telah dimulai
Perang yang tak terdamaikan dan harus dimenangkan
Raksasa terjungkal dari singgasananya
Mati di tiang-tiang pusat kota

Sorak-sorak kemengan menggemuruh
Panji merah dimana-mana
Mereka pun berkuasa
Semua merasa nyaman
Sistem kaya-miskin lenyap
Mereka benar-benar setara
Dan republik pun menguap
Seruan suci, parade bersenjata,
Rumah tempat tumpukan dollar menjadi barang antic

Peradaban baru, kebudayaan baru
Inilah pulau biru
Senyum dan tawa dari setiap bibir orang-orang yang bebas

2 Agustus 2011

Comments

Popular posts from this blog

Marxisme dan Sosialisme Ala Indonesia

Oleh: Ibnu Parna Semenjak tanggal 5 Juli 1959 kaum pekerja Indonesia berhadapan dengan apa yang disebut “sosialisme ala Indonesia”. Tanggal 5 Juli tersebut orang dibawa kembali ke Undang-undang Dasar 1945 dan dalam rangkaian dekrit Presiden kembali ke Undang-undang Dasar 1945 ini ditetapkan Pidato Presiden pada tanggal 17 Agustus 1959, pidato mana telah diperinci menjadi Manifesto Politik Republik Indonesia yang mengandung persoalan-persoalan pokok dan program umum revolusi Indonesia. Manifesto ini disusun menurut cara berpikir dan keyakinan Presiden Soekarno yang kemudian disahkan oleh Kabinet Kerja yang dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno itu sebagai haluan negara. Menurut Undang-undang Dasar 1945 haluan negara ditentukan oleh MPR. Bila MPR ini sudah dibentuk, dengan sendirinya mengenai haluan negara ini akan diadakan pembicaraan secara khusus. Sementara Manifesto Politik pemerintah Soekarno dinyatakan berlaku sebagai haluan negara. Pada hari Pahlawan tahun 1959 Pres...

Politik Kelas Buruh (Bagian I)

Banyak orang yang berpendapat bahwa kelas buruh tidak akan pernah sanggup membebaskan dirinya sendiri, tak mungkin buruh mampu membangun partai sebagai alat perjuangan politiknya. Meraka   menganggap buruh buta politik, buruh tak cukup banyak waktu belajar politik. Maka orang-orang seperti itu, ingin menyatakan bahwa buruh tak perlu berpolitik. Maka kelas buruh dipaksa supaya menyerahkan perjuangan politiknya dibawah kepemimpinan kaum intelektual borjuis. Pandangan kelas borjuis tersebut secara tidak langsung telah menunjukan ketakutan yang luar biasa terhadap kekuatan perjuangan politik kelas buruh. Kaum buruh sudah terlalu lama “dinina-bobokan” oleh mitos-mitos ratu adil kelas borjuis. Kelas borjuis menyekat perjuangan ekonomi dan politik kelas buruh tidak lain bertujuan untuk melanggengkan sistem perbudakan modern (kapitalisme). Namun, kelas buruh semakin sadar seiring penghisapan dan parodi kebohongan dari kelas borjuasi. Memang pada awalnya kesadaran dan perjuangan bur...

SANGKUT PAUT ANTARA SAREKAT BURUH DAN VAKSENTRAL SERTA SEBALIKNYA | IBNU PARNA*

                       I.         JAMINAN ARAH SAREKAT BURUH HARUS ADA. 1.     Pengggerutuan dikalangan Buruh merata. Pengggerutuan tersebut kian hari kian meningkat. Dalam jumlah penggerutuan Buruh ini terpendam kekuatan Revolusioner ke arah masyarakat baru. Ihctiar untuk menyalurkan penggerutuan Buruh tersebut hingga dapat diperoleh kekuatan Revolusioner itu perlu di jalankan. Sebagai langkah pertama, Buruh yang banyak menggerutu itu perlu dihimpun dalam suatu organisasi yang banyak dikenal sebagai Sarekat Buruh. Demikianlah dimana-mana tumbuh Sarekat-Sarekat Buruh sebagai jamur di musim hujan. 2.     Sudahlah diketahui, bahwa Sarekat-sarekat Buruh dibangun bukanlah sebagai tujuan, melainkan semata-mata sebagai salah satu alat penggali kekuatan Revolusioner kearah masyarakat baru. Begitulah soalnya bukan hanya asal membangun Sarekat-sareka tB...