Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

"Janji Kita"

Jika kau disini, engkau akan paham, atau sedikit mengerti apa yang kulakukan. Sudah ku jelaskan semuanya padamu. Saya tak melanggar janji kita. Dan yang saya lakukan adalah mencicil sedikit demi sedikit agar janji kita terwujud. Saya sangat sadar dengan apa yang ku lakukan. Bukan, bukan karna saya mengikuti arus. Saya masih memiliki keyakinan, janji kita kan terwujud suatu saat nanti. Ya, saya sadar dengan sesadar-sadarnya. Semuanya demi janji kita. Dan saya tidak berdusta.  Jalan memang tak selalu lurus, dan engkau harus pahami itu. Kadang ada aral yang merintang. Kita hidup tak sendiri! Dan kadang harus berbagi. Sayang, sayang tak boleh egois. Saya, engkau dan mereka pun punya masa depan yang sama. Namun jika rasa benci sudah menguasai, kebijaksanaan telah sirna dan tak ada lagi rasa percaya. Maka senantiasa salah lah saya di dihadapan mu. Dan akhirnya kita pula yang jatuh remuk redam. Sayang, saya tidak membebek atau apalah apalah itu. Saya hanya mencicil agar janji ...

“Puisi Untuk Jenny”

Karya: Karl Marx Ambilah, ambilah semua kidung ini dari padaku Hingga cinta berbaring di kakimu Tempat jiwa bebas mendekat bermandi cahayamu Diiringi lantunan kecapi yang melaju Oh, andai gema kidung ini mampu Melahirkan kerinduan dengan sentuhan yang merdu Membuat hati berdenyut penuh hasrat Hingga hatimu yang agung melambai lembut Lalu kusaksikan dari kejauhan Kemenangan membawamu sinar kesetiaan Lalu aku kan berjuang, jauh lebih berani Lalu kidungku kan terbang melayang, jauh lebih tinggi Terjiwai, kidungku kan menjadi leluasa kembali Dan dalam kepahitan yang manis Kecapiku akan menangis Bagiku, tak ada ketenaran duniawi Mesti menjangkau tiap sudut bumi Meski layak digenggam dengan bangga hati Meski mencapai tempat-tempat jauh sekali Sebanding dengan sorot matamu, saat berbinar penuh Dengan hatimu, saat hangat oleh kegembiran yang riuh Atau linangan air matamu, saat mengalir bagai peluh Diperas oleh sentuhan tembang yang teduh Dengan hati riang kan ku pasrahkan jiwa ini ...

Sajak Ibu || Widji Thukul

Lukisan Wiji Thukul Karya Andreas Iswinarto Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah Tetapi menangis ketika aku susah Ibu tak bisa memejamkan mata Bila adikku tak bisa tidur karena lapar  Ibu akan marah besar Bila kami merebut jatah makan yang bukan hak kami Ibuku memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang Ketabahan ibuku mengubah rasa sayur murah jadi sedap Ibu menangis ketika aku mendapat susah Ibu menangis ketika aku bahagia Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda Ibu menangis ketika adikku keluar penjara Ibu adalah hati yang rela menerima Selalu disakiti oleh anak-anaknya Penuh maaf dan ampun Kasih sayang ibu adalah kilau sinar kegaiban tuhan Membangkitkan haru insan   Dengan kebajikan   Ibu mengenalkan aku kepada tuhan   (Solo, 1986)

Untuk Semua Manusia Penghuni Pulau Biru

Suatu jalan panjang yang berliku Gelap yang semakin menebal Ialah raksasa yang angkuh Menyeramkan, terus meneror dan menghancurkan ke-manusia-an Muncul dari dasar bumi menelan cahaya-nya hidup “Eudenonisme” menjadi merana tak terbayang Setelah penghancuran atas monarki absolut Menjadikan pengusa dan dengan republik agar dihormati Dengan seruan suci, dengan parade bersenjata, Dengan rumah tempat tumpukan dollar Membuatnya semakin Berjaya Tapi tidak untuk mereka para pekerja-upahan Hidup mereka bukan sepenuhnya miliknya, Mereka mencipta namun bukan untuknya, Mereka di jauhkan dari orang-orang yang terkasih Seiring menyesakkan nafas Bersama luka yang semakin menganga Mereka mulai berkumpul Meraka mulai membusungkan dada Ribuan semut merah mulai menjarah Mereka sadar akan hukum sejarah Lantas mereka berseru: “Kamilah pengganti dari kekuasaan leviathan yang tiran” “Kami bawa buah tangan anti private property ” “Kamilah masa de...